Minggu, 14 September 2008

= JMF punya gawe




-0-


N.7.
-0-

Ditunggu beritanya ya....

Jumat, 12 September 2008

=The Government of the Republic of Indonesia presented the Nomination File of Indonesian Batik to UNESCO Office, Jakarta

http://www.unesco.or.id/activities/culture/programme/424.php

The Government of the Republic of Indonesia presented the Nomination File of Indonesian Batik to UNESCO Office, Jakarta

The representatives of the Coordinating Ministry for People’s Welfare on behalf of the Government of the Republic of Indonesia and the community of Indonesian Batik presented to the UNESCO Office in Jakarta the Nomination File of Indonesian Batik for consideration for inscription on the UNESCO Representative List of Intangible Cultural Heritage of Humanity on 4 September 2008.

Hubert Gijzen, Director and Representative of UNESCO Office, Jakarta, Himalchuli Gurung and Masanori Nagaoka Programme Specialists for Culture attended the official handover of the Nomination File of Indonesian Batik at UNESCO Office, Jakarta.

This nomination file has been prepared with full participation of the batik communities from many Provinces of Indonesia to meet the spirit of the UNESCO 2003 Convention on Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage and the relevant Operational Guidelines, to which Indonesia has become a State Party in January 2008.

In order to provide stakeholders with the information of the 2003 Convention, the UNESCO Office in Jakarta organized a two-day workshop jointly with the Ministry of Culture and Tourism and the Indonesian National Commission for UNESCO in Jakarta, Indonesia on 17-18 April 2008.

The nomination file will be examined for the inscription on the Representative List of the Intangible Heritage of Humanity in due course.

More information is available at the following web address: http://www.unesco.org/culture/ich/

Rabu, 10 September 2008

=Wayang sebagai Adikarya Budaya Lisan Nonbendawi Warisan Peradaban Manusia

UNESCO menetapkan wayang Indonesia sebagai salah satu adikarya budaya lisan nonbendawi warisan peradaban manusia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)

=Bentara Budaya - Malam Penggalangan Solidaritas untuk istri Pak Kocil Birowo


N.27. Nyanyi Yok

-0-


N.26. Ki Joko Wasis beraksi, melukis bebas dengan diiringi musik.

-0-


N.23.P Felix dan Kang Jemek menikmati acara malam penggalangan solidaritas.

-0-


N.22.Adik - adik membantu mengumpulkan dana sosial.

-0-


N.21.Ki Joko Wasis beraksi dan akan menyumbangkan karyanya untuk malam amal.

-0-


N.20 Ibu Yanti mengedarkan kotak dana sosial, wah...hebat tenan, para seniman Jogja mempunyai solidaritas yang sangat tinggi sekali, jadi terharu.....

-0-


N.19

-0-


N.18

-0-


N.17.

-0-


N.16.Mas Widodo tidak kalah dengan seniman-seniman yang lain, turut serta berpartisipasi dalam malam amal tersebut.

-0-


N.15. Ibu Yanti P menyumbangkan sebuah lagu untuk memeriahkan suasana malam penggalangan dana solidaritas "Pentas Amal Untuk Membantu Sahabat" Ny Rusmuntarini, istri wartawan KR Knocil Birawa di Bentara Budaya Yogyakarta, Kotabaru, Rabu(10/9)malam.


-0-


N.14. Ibu Yati turut berpartisipasi dalam malam penggalangan solidaritas.

-0-




-0-


N.12.MC

-0-


Ki Joko Wasis mulai beraksi.

-0-


N.10.Ki Joko Wasis mulai beraksi.

-0-


N.9.Seniman Jogja menyumbangkan keahliannya untuk malam solidaritas.

-0-


N.8.Pak Felix dan Ki Joko Wasis diskusi.

-0-


N.7.Kang Widodo dan kawan - kawan didepan Ruang Pameran Bentara Budaya.

-0-


Malam Penggalangan Solidaritas untuk istri Pak Kocil Birowo

=Terkait Temuan Batik Ilegal, Bila Dibiarkan, Batik Indonesia Tamat

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=177148&actmenu=35

TERKAIT TEMUAN BATIK ILEGAL ; Bila Dibiarkan, Batik Indonesia Tamat

10/09/2008 09:11:22 YOGYA (KR) - Temuan Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian RI mengenai dugaan masuknya batik ilegal senilai Rp 290 miliar di Indonesia, membuat pemerhati batik merasa prihatin. Diharapkan, pemerintah harus bertindak tegas mengenai permasalahan tersebut dan membuat regulasi yang bisa membentengi nasib batik Indonesia. Bila dibiarkan, cepat atau lambat, batik Indonesia akan tamat nasibnya.
Hal ini disampaikan Wakil ketua Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad Yogyakarta, Hestisara Sukanto Reksohadipraja dan pengurus Dekranasda DIY serta pemilik Mirota Batik & Kerajinan, Hamzah HS, kepada KR secara terpisah, kemarin. “Pemerintah harus melarang peredaran batik yang dinilai ilegal tersebut, sehingga masyarakat tidak dirugikan,” kata Hestisara Sukanto Reksohadipraja.
Hestisara dan Hamzah HS mengatakan, jika pemerintah tidak segera ambil tindakan, selain masyarakat yang merasa dirugikan, juga akan merusak pasaran kerajinan batik asli. Selama ini publik menilai, batik Indonesia diakui sebagai suatu karya seni budaya milik Indonesia.
Menurut Hamzah, makin memasyarakatnya batik, bahkan sudah mulai dipakai untuk seragam karyawan maupun seragam sekolah, menjadikan peluang bagi pebisnis untuk memasarkan batik dengan harga murah. “Kaitan dengan harga murah, semua tahu Cina merupakan negara yang gencar memproduksi apa saja, dengan harga murah. Kalau kita tak bisa mengantisipasinya, akan tersingkir dan habislah batik kita,” katanya.
Sementara masalah ilegal atau tidak, menurut Hestisara, harus dilihat dari mana. Jika masuk ke motif, maka tidak dapat dikatakan ilegal, karena itu merupakan karya masing-masing daerah. “Sedangkan kalau masuk ke perdagangan, bisa dilihat ada tidaknya izin,” jelasnya. (Rsv/*-9)-z

Senin, 08 September 2008

=Makin Kuatkan Keistimewaan DIY; Proklamator Ke-2 Bermakna Ganda

http://www.bapeda.pemda-diy.go.id/home.php?mode=content&submode=detail&id=2798

Makin Kuatkan Keistimewaan DIY; Proklamator Ke-2 Bermakna Ganda
07/09/2008 00:23:44

YOGYA (KR) - Tekad rakyat Yogyakarta untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak hanya dibuktikan dengan Maklumat 5 September 1945, tapi kesetiaan rakyat Yogyakarta untuk menyokong tegaknya NKRI juga tersirat melalui Proklamasi 30 Juni 1949 yang dikumandangkan di Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Naskah Proklamasi 30 Juni 1949 terdokumentasi dalam SKH Kedaulatan Rakyat edisi 30 Juni 1949. Menurut Sejarawan UGM Prof Dr Djoko Suryo, temuan tersebut merupakan fakta baru dalam sejarah perjalanan keistimewaan DIY yang selama ini belum pernah terungkap ke publik. ”Ini dokumen yang sangat penting. Saya juga mengetahuinya baru sekarang,” kata Prof Djoko kepada KR, Sabtu (6/9).
Ketika disodori naskah Proklamasi 30 Juni 1949 dan mencermati redaksionalnya, Prof Djoko menyebutnya sebagai Proklamasi kedua setelah 17 Agustus 1945. Menurutnya, Proklamasi 30 Juni 1949 memiliki makna ganda. Pertama, sebagai bentuk pengumuman kepada dunia internasional bahwa NKRI masih tegak berdiri. Sebab sebelumnya kedaulatan RI terkoyak oleh pendudukan Belanda yang ingin menjajah kembali.
Kedua, penegasan kembali bahwa Sultan HB IX sebagai representasi seluruh rakyat Yogyakarta konsisten mendukung NKRI. ”Itu langkah cerdas HB IX yang dengan cepat memanfaatkan momentum 30 Juni, yaitu sehari setelah tentara Belanda ditarik mundur dari Yogyakarta, atau yang selalu diperingati sebagai peristiwa Yogya Kembali 29 Juni 1949,” tegas Prof Djoko.
Saat memproklamasikan kedaulatan RI pada 30 Juni 1949, Sultan HB IX menjabat sebagai Menteri Negara Koordinator Keamanan. Ia bertindak atas nama Presiden RI dan bertugas menjadi ‘penjaga gawang’ ibukota negara yang berkedudukan di Yogyakarta. Sedangkan Soekarno-Hatta saat itu menyingkir ke Bukit Tinggi Sumatera Barat untuk mengamankan diri dari agresi militer Belanda. Soekarno-Hatta baru tiba kembali ke Yogya 6 Juli 1949.
”Makna penting dari Proklamasi kedua tersebut adalah penegasan bahwa rakyat Yogyakarta tidak goyang atau berubah pendiriannya untuk tetap menyatu dengan NKRI. Ini penting untuk disampaikan agar semua orang tahu bahwa Yogyakarta setia dengan republik. Yogya sangat berjasa dalam memenangkan republik ketika republik ini hendak diambil kembali oleh Belanda,” jelas Djoko.
Pengorbanan rakyat Yogyakarta, kata Djoko sudah selayaknya dihargai. Sehingga aspirasi tentang keistimewaan DIY menurutnya bukanlah keinginan yang mengada-ada dan berlebihan karena memiliki dasar yang kuat. ”Selama 63 tahun rakyat Yogya setia kepada NKRI dan tak pernah macam-macam. Itu mestinya menjadi landasan pertimbangan yang rasional untuk memberikan status istimewa,” tandasnya.
Ditambahkan, Maklumat 5 September 1945 merupakan titik awal bergabungnya Yogyakarta sebagai bagian dari NKRI. Sikap tersebut secara konsisten ditunjukkan rakyat Yogya dalam peristiwa Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949 yang menghabiskan pengorbanan besar. ”SO 1 Maret mungkin bisa disebut hanya sebagai letupan kecil. Tapi Proklamasi 30 Juni 1949 merupakan bukti konkret tentang kedaulatan RI,” ujar Djoko. (R-2)-a

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=176794&actmenu=35


08/09/2008 | dibaca 1 kali

Sabtu, 06 September 2008

=Menbudpar Buka Festival Indonesia di Melbourne

http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MjYzMTc=

Kamis, 28 Agustus 2008 09:48 WIB

Menbudpar Buka Festival Indonesia di Melbourne

SYDNEY--MI: Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu TM Hamzah Thayeb dipastikan menghadiri dan membuka Festival Indonesia 2008 di Melbourne.

Festival yang berlangsung di gedung Eksibisi, Karlton, kota Melbourne dari Jumat (29/8) hingga Minggu (31/8) itu akan dimeriahkan dengan pameran dagang dan karier, promosi pariwisata, bazar makanan, dan pertunjukan seni budaya Nusantara.

Sedikitnya 250 orang anggota delegasi dari Jawa Barat dan sejumlah daerah lain di Indonesia hadir di kegiatan yang didukung 150 artis lokal dan undangan dari Tanah Air serta ratusan pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Melbourne.

Dalam Festival Indonesia yang telah menjadi kegiatan tahunan Konsulat Jenderal RI Melbourne sejak 2005 ini Dirjen Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri RI Andri hadi dan tiga anggota DPR-RI dari Fraksi Golkar, Partai Amanat Nasional dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
juga hadir.

Dari kalangan pejabat pemerintah dan anggota parlemen negara bagian Victoria juga akan hadir. Beberapa di antaranya adalah Sekretaris Parlemen untuk urusan kebudayaan, Liz Beattie MP dan Walikota Melbourne, John So.

Festival Indonesia 2008 yang menonjolkan potensi ekonomi, investasi, dan seni budaya Jawa Barat ini diawali dengan penyelenggaraan forum investasi yang antara lain difokuskan pada sektor industri bijih besi dan industri manufaktur baja.

Dalam pameran perdagangan, ada 64 gerai produk unggulan ditampilkan beragam perusahaan, pemerintah daerah dan non-pemerintah, seperti Pemda Jabar, NTB, Bali, Kaltim, Sumbar, Kementrian Pemuda Olah Raga, Depbudpar, BKPM, Depdag, Deperin, HIPMI Jaya, BHP Billiton, dan Mercedes Benz.

Konsul Jenderal RI Melbourne, Budiarman Bahar, mengatakan, Festival Indonesia telah tumbuh menjadi terminal bagi penguatan kerja sama Indonesia-Australia dalam membangun hubungan di tingkat rakyat.

Sebelumnya, Minister Consellor Bidang Ekonomi Konsulat Jenderal RI di Melbourne, Jahar Gultom, pernah mengatakan, KJRI Melbourne bersama Garuda Indonesia dan Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (ITPC) Sydney akan memanfaatkan ajang Festival Indonesia 2008 untuk menjaring pengusaha Australia guna berpartisipasi di Pameran Produk Ekspor di Jakarta Oktober
mendatang.

Acara yang penyelenggaraannya didukung Bank Indonesia, Bank Mandiri, dan BNI 1946 ini tahun lalu diselenggarakan di kawasan wisata Waterfront City Dockland, Melbourne. Belasan ribu orang datang, dan mereka tidak hanya dihibur dengan serangkaian acara seni-budaya Nusantara, tetapi mereka juga bisa menikmati pameran perdagangan dan bazar makanan.

Data statistik perdagangan menunjukkan total nilai perdagangan Indonesia-Australia 2006-2007 mencapai hampir 10,5 miliar dolar Australia, dan menjadikan Indonesia negara mitra dagang ke-13 Australia.

Saat ini setidaknya terdapat 400 perusahaan Australia yang beroperasi di Indonesia, dan peluang investasi di luar bidang pertambangan dan infrastruktur di Indonesia masih terbuka luas bagi para investor Australia.

Negara-negara tujuan ekspor dan impor utama Australia selama ini adalah China, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Singapura, dan Jerman.

Total nilai ekspor Australia mencapai 210 miliar dolar (2006) dan setiap tahunnya menerima sekitar 5,5 juta orang pengunjung asing.(Ant/OL-02)

=Bentara Budaya Yogyakarta - Kere Munggah Bale




-0-




-0-




-0-




-0-



-0-

Sore ini Kang Tiyas memutuskan untuk "terbang" ke Bentara Budaya Yogyakarta, disana ada pameran lukisan dengan tema "Kere Munggah Bale".
Yang membuat Tiyas bingun atau bingung adalah kata "bale" tersebut, bale bisa berarti macam-macam, tentunya tergantung penafsiran kita masing-masing, sedangkan kata "kere" itu juga bisa berarti macem-macem, nah daripada kita bingung-bingung membahas definisi "Bale Kere" tersebut, lebih baik marilah kita nikmati bersama - sama hasil karya teman-teman seniman kita yang wwwwueehhhh... pada indah - indah gitu.

Sabtu, 30 Agustus 2008

=Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak - Taman Budaya Yogyakarta, 25 Agustus - 5 September 2008


Mas Guntur Sangga Langit turut serta diskusi, diskusi makin menarik karena pendapat dan pandangan-pandangan Mas Guntur yang fresh dan segar.


-0-


Maturnuwun - maturnuwun, Pak Sulebar memberi penjelasan kepada Mas Tiyas tentang Buku Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak yang kemudian diberikan kepada Mas Tiyas .


-0-



N.11

-0-



N.10,

-0-


Mas Tiyas sedang mendengarkan dan mencatat informasi dari Pak Sulebar berkaitan dengan Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak.


-0-




-0-


Seniman dua Generasi sedang berdiskusi, Ki Joko Wasis dengan Bapak Sulebar, diskusi sangat menarik karena masing - masing mempunyai referensi yang luarbiasa indahnya.

-0-

Judul Proyek : Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak
Venue : Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta
Waktu Pameran : 25 Agustus - 5 September 2008
Pembukaan Pameran : 25 Agustus 2008; pukul : 19.30 WIB
Dibuka oleh : dr Oei Hong Jien.



Karya Yusron Mudhakir


-0-


Karya WillemKootstra

-0-


Karya At Sitompul


-0-


Karya Pak Guntur

-0-



Karya DeySufriadi

-0-



Karya Yuliano Liestiono

-0-



Karya Punia

-0-



Karya MikhailDavid

-0-

Karya Gotot Prakoso

-0-


Karya CharlesSchuster
-0-

Karya Wirata

-0-

Karya Pak Sule

-0-

Karya Bu Nunung WS

-0-

Karya Makhfoed

-0-


Karya Henk Mual

-0-

Karya Elisha

-0-

Karya Anwar Djuliadi.

-

Judul lukisan untuk buku:

Charles Schuster: Color Walk, 2008, 83 x 387 cm, mixed on canvas

Elisha: Nuh 1, 2008, 120 x 135 cm, mixed media on canvas

Gotot Prakosa: Pikiran ter Kotak-Kotak, 2006, 70 x 93 cm, acrylic on paper, mixed media

Mikahil David: Balikpapan, 2006, 270 x 270 cm, acrylic on canvas

Utoyo Hadi: Aku dan Hutan Belantara, 2008, 230 x 150 cm, mixed media, oil colors on canvas

Makhfoed: Perjalanan 432, 2008, 120 x 140 cm, oil colors on canvas

M. Eksan: Dari Kosong Tidak Kosong, 2008, 130 x 110 cm, oil colours on canvas

Anwar Djuliadi: Batang, 2008, 150 x 200 cm, oil on canvas

Ida Bagus Punia Atmaja: Beku # 1, 2008, 100 x 150 cm, acrylic on canvas

AT Sitompul: Hidup itu Di Tata dan Di Titi, 2008, 135 x 175 cm, hardboard cut oil on canvas, 3 edition

Dedy Sufriadi: The Theory of Text, 2008, 180 x 300 cm, acrylic – oi; on canvas

Guntu Sangga Langit: Lindu Segoro, 2004

Ibrahim:

I Made Wirata: Piala Serpihan, 2008, 150 x 200 cm, oil on anvas

Nunung WS: Meditation on Blue, 2008, 140 x 170 cm, acrylic on canvas

Netok Sawiji_Rusnoto Susanto: Virtual Replacement, 2008, 200 x 400 cm, mixed media on canvas

Sulebar M. Soekarman: Jalan Menuju ke Al Khaliq, 2008, 110 x 120 cm (3 panel), mixed media, oil on canvas

Willem Kootstra: Shout of Freedom, 2008, 130 x 170 cm, mixed media on canvas

Henk Mual: Kompositie, 2007, 35 x 34 cm, Lascaux acryl on paper

-

Judul Proyek : Pameran Perjalanan Seni Lukis Abstrak
Venue : Taman Budaya Yogyakarta, Yogyakarta
Waktu Pameran : 25 Agustus - 5 September 2008
Pembukaan Pameran : 25 Agustus 2008; pukul : 19.30 WIB
Dibuka oleh : dr Oei Hong Jien

=