Rabu, 15 Juli 2009

=Jogja Gallery - heri-donoLogy































































































































































































































































Bung Heri Dono sedang ngecek semua fasilitas dan tempat untuk acaranya pada malam nanti di alun - alun utara, Yogyakarta.

-o0o-

Yogyakarta, 15 Juli 2009

Visual Art Solo Exhibition
heri-donoLogy

Curated by Mikke Susanto

JOGJA GALLERY
15 July - 2 August 2009

Senin, 13 Juli 2009

=Putu Sugih Arta - Cerber Bagian I

MISTERI DATU LIMA PESANAKAN

Oleh : Putu Sugih Arta.

(1)

Perjalanan hidup memang penuh misteri. Bayangkan saja aku tak pernah mengerti pengalaman yang kualami belakangan ini. Betapa kadang menakjubkan, kadangpula harus merutuki nasib yang terbilang penuh teka-teki berending kecewa. Namun, semua itu kujalani dengan penuh ikhlas pada usia yang masih belia. Belum sepenuhnya mengerti asam garam kehidupan.

Dua kali kuliahku gagal. Sempat belajar di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan mengambil jurusan Sastra Inggris, belum habis empat semester, kubekukan mengambil Fakultas ilmu filsafat. Gagal. Menjemukan. Hanya sampai semeter dua dan kini aku serius di Fakultas Ilmu Sosial mengambil jurusan publisistik yang cukup menantang. Sekarang agak betah bayangkan telah mencapai semester tujuh. Enam bulan lagi materi kuliahku akan habis. Ya, aku mesti mencari kesibukan di luar kampus.

Matahari pagi menyeruak dari balik rimbun cemara. Taman kampus, yang konon dibangun di zaman Kompeni sewaktu masih bercokol di tanah air memberi angin segar inspirasiku. Aku akan coba membuat berita mengenai Taman Kampus ini. Dari mana kumulai ? O, ya dari kenapa Kompeni membuat taman di sini. Kalau melihat letak geografisnya, taman ini berada pada daerah ketinggian. 2760 dpl. Cukup tinggi berhawa sejuk. Namun, kenapa di sini. Baiknya kutanya pada penjaga taman.

Malam itu, sepulang dari rumah Prita aku mampir di rumah Pak Komarudin. Istrinya ramah, “wah, Bapak baru saja mau ke kampus. Ayo, adik duduk dulu. Mau minum kopi ?”
“Kebetulan,”sahutku.
Kurogoh kantung tasku, mencari rokok. Masih dua batang. Maklum anak kos, beli rokok bijian. Kusulut sebatang. Udara dingin yang meradang perlahan terusir. Kuhembuskan asap yang mengepul dari mulutku.
Istri Komarudin masuk, beberapa detik kemudian Komarudin yang nongol.
“Eh, adik Lalu. Tumben main ke rumah saya.”
“Begini, pak. Saya tertarik menulis sejarah taman kampus, saya mau tanya tentang seluk beluknya. Kapan bapak bersedia ?”
“Wah, hari ini saya giliran jaga. Besok, bagaimana ?”
“Setuju, pak…”
“Tapi, rasanya saya hanya mengetahui sedikit saja. Yang paham, itu kakek istri saya. Kakek Salman Al Gazali namanya. Beliau tinggal dua rumah di belang rumah saya.” Tangan Komarudin menunjuk ke arah Barat.
“Ya, kalau bisa selengkapnya, deh.”
“Tentu kakek saya senang sekali Dik Lalu kunjungi. Saya pernah cerita, ada seorang bangsawan Sasak kuliah di sini. Wah, dia senang sekali. Kepingin rasanya ia jumpa, tapi tak pernah sempat saya utarakan pada adik Lalu.”
“Lho, kok sejauh itu ?”
“Wah, adik Lalu pasti bertanya-tanya…kenapa demikian ?”
“Tentu saja…apa yang mendasarinya ?”
Baru saja mulut Komarudin hendak menjawab pertanyaanku.Istri Komarudin keluar membawa baki berisi kopi dan sepiring pisang goreng.
“Ayo silahkan, Adik Lalu…saya baru membuat pisang goreng dari pohon pisang yang ditanam Bapak di belakang rumah…”
“Terimakasih Bu,”aku ambil sebatang pisang goreng hangat hidangan malam itu. Kemudian kupandangi wajah Komarudin yang bangkit dari tempat duduknya mengambil kulit jagung yang terselip di dinding bambu.
“Kami di kampung ini bukan asli penduduk Pulau Jawa lho ?”
“Maksud Pak Komar ?”
“Kami pada zaman Deandles Gubernur Jendral Belanda, adalah rombongan tenaga kerja paksa yang didatangkan untuk membuat jalan Anyer sampai Panarukan…”
“Oh…lantas aslinya dari mana ?”
“Dari Lombok, sama seperti Adik Lalu…”
“Satu kampung ini ?”
“Iya, Adik lalu tahu Desa Jenggala…”
“Ya, saya tahu itu…”
“Nah, dari sanalah kami berasal….”
“Kalau adik Lalu desanya di mana ?”
“Saya lahir di Mataram, pak. Besar di Mataram. Kemudian setamat SMA tujuh tahun lalu saya merantau. Di Denpasar hampir dua tahun, di Surabaya setahun. Dan sampai sekarang di kota ini. Bapak saya angkatan laut, sedang ibu saya guru TK.”
Jawabanku, tak digubrisnya. Komarudin terlihat gelisah. Tiada terasa, waktu berlalu begitu cepat. Cangkir kopi, telah kosong. Komarudin melirik jam dinding hadiah dari Toko Sandal. Pukul 20.00 Wita.
“Mau ke kampus, Pak Komar...”potongku.
“O,ya…soalnya giliran jaga malam.”
“Bareng saya saja, walau motor butut. Masih kuat kok membonceng tiga orang…”
Komarudin tersenyum. Ia pun kuantar ke kampus. .

(bersambung)

***

Senin, 06 Juli 2009

=Via Via cafe - KINKINs Solo Exhibiton INDONESIA TODAYS





































=Rumah Budaya Babaran Segaragunung - DS PRIYADI

Press Release

Encaustic adalah teknik melukis yang usianya telah sangat tua. Media yang digunakan adalah media lukis dimana pengikat pigmen warnanya menggunakan lilin/malam—sebagaimana digunakan pula dalam teknik membatik. Pigmen warnanya ditambahkan pada campuran lilin-getah yang dicairkan untuk membuat cat encaustic. Pada masa Yunani kuno, para pembuat kapal menggunakan lilin lebah untuk menutup celah dan memberi lapisan anti air pada lambung kapal mereka. Pada proses akhirnya mereka menambahkan pigmen warna pada lilin dan mulai membuat pola pada lambung kapal yang sudah dilapisi lilin. Dengan proses ini orang-orang Yunani menggunakan lukisan encaustic dalam dua orientasi dimensi: dua-dimensi (pada media yang datar) dan tiga-dimensi (pada patung-patung tanah liat dan marmer).

Meskipun populer di masa kebudayaan kuno, pada abad ke-17 lukisan encaustic mulai tenggelam karena seniman-seniman menemukan tempera (teknik melukis dengan pigmen warna yang dicampur telur dan air), fresco (mural), dan akhirnya cat minyak. Pengetahuan mengenai bahan-bahan dan teknik-teknik encaustic akhirnya dilupakan.

Di abad ke-20 mulai ada kebangkitan kecil pada lukisan encaustic, yang paling terkenal melalui karya Jasper Johns dari pertengahan tahun 1950an. Lukisan encaustic adalah media artistik yang mengalami kebangkitan pada masa 15 tahun terakhir dan sedang berada dalam proses ditemukan-kembali oleh mereka yang menggunakannya. Ini menjadi semacam garis batas artistik.



Dalam rangka Pertukaran Kebudayaan, melalui kerjasama dengan Rumah Budaya Babaran Segaragunung Cat Crotchett akhirnya datang ke Indonesia untuk memperkenalkan teknik tua tersebut dengan menyelenggarakan workshop dan pameran. Ia adalah seorang profesor dari the Frostic School of Art dan telah mengajar di Western Michigan University sejak 1996. Dia mendapatkan gelar MFA Painting dengan spesialisasi lanjutan pada Lithography dari Bowling Green State University di Bowling Green, Ohio, dan mendapatkan gelar BFA pada Painting and Art History dari the University of Illinois di Champaign-Urbana, Illinois.

Pembukaan Pameran 1 Juli 2009, jam 19.30 di Rumah Budaya Babaran Segaragunung

Pameran 1 - 7 Juli 2009, di Rumah Budaya Babaran Segaragunung

Workshop 23 s/d 25 Juni 2009 di Studio Brahma Tirta Sari

28 s/d 30 Juni 2009 di Taman Budaya Yogyakarta

Demikian press release ini. Kami berharap media Anda bisa meliput kegiatan ini supaya bisa diakses oleh masyarakat secara luas.

Koordinator Program

Rumah Budaya Babaran Segaragunung


DS PRIYADI

(0813 1815 8363)

=ViaVia travelers Cafe - Kinkin Abdul Aziz

KINKINs Solo Exhibiton INDONESIA TODAYS

6 juli - 6 agustus 2009

Press Reallese
Untuk Pameran tunggal Kinkin
INDONESIA TODAYS
Di viavia cafe
Jl.prawirotaman 30 jogjakarta

Kinkin Abdul Azis, pria kelahiran Tasikmalaya, lulusan UNJ Jakarta, memilih media cat air di atas kertas dalam karya karya nya, pemilihan media yang kurang populer dalam ranah seni kontemporer saat ini, sebuah pilihan untuk memperlihatkan kematangan tekniknya mengeksplorasi cat air dengan tema-tema up to date, sosial, politik, dan kegelisahan pergaulan di sekelilingnya. Tidak hanya mengedapankan ketekunan teknik cat air , untuk pameran tunggalnya ini kinkin mengeksplorasi kenakalan kenakalan batinnya dalam konsep konsep lebih berat, namun lucu. Mungkin Seniman Asian Water color ini mencoba memproyeksikan dirinya sebagai wartawan visual, pembawa berita.
" INDONESIAN TODAYs", dipilih sebagai tema besar dalam pameran ini, tema tentang persoalan kekinian yang sedang hangat beredar di tanah air. Respon Kinkin melalui kerja visualnya menyentuh isu politik antara lain pemilihan presiden, koalisi partai, perebutan kekuasaan dan fenomena facebook yang kemudian di posting kedalam ruang pamer ViaVia. Menyatu dengan cafe yang dominasi pengunjungnya adalah berasal dari bebagai negara, berbagai usia, dan bebeda latar belakang.
ViaVia travelers Cafe
Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
Telp: +62 (0) 274 386557 | Fax: +62 (0) 274 372874
Mobile: +62 (0) 81 7943 1514 (Boy)
http://yellowoneart.co.cc
karmanproject@gmail.com

=Kersan

Sabtu, 04 Juli 2009

=Roommate - Memories on Print, Bayu Widodo



= IVAA Open House 2









Farah Wardani
SORE-MALAM INI: IVAA Open House 2, 2 Juli 2009.
Patehan Tengah 37 Yogya.
17.00-18.00: Jumpa Media.
18.00-19.00: Snack & Kopi Magrib.
19.00-19.30: Presentasi Fasilitas On Site Digital Archive & Preview Online Archive oleh IVAA. 19.30-20.00:Makan Malam.
20.00-21.00: Performance & Talk oleh Maria Tri Sulistyani (Papermoon Puppet Theatre).
Host: IVAA Crew.
Moderator Talk: Brigita Isabella.
MC: Ican Harem.

Rabu, 01 Juli 2009

=Kersan Art Studio - Pameran Tunggal Bayu Widodo.

Memories on Print
Pameran Tunggal Bayu Widodo
(Hasil Residensi di Studio Megalo, Canberra, Australia)

Bentuk acara seni: Pameran, Workshop, dan Artist Talk

Memories on Print

Tema ini diambil dari dialog dengan Bayu Widodo terkait dengan pameran tunggalnya di Roommate 5 – 12 Juli 2009. Pameran tunggalnya kali ini berbeda dengan pameran sebelumnya. Pameran ini mengetengahkan kembali karya hasil residensinya di Studio Megalo, Canberra, Australia. Pameran tunggal ini juga disertai dengan workshop screen printing, dan tattoo, serta artist talk proses residensinya di Australia.

Bayu melakukan residensi selama enam minggu. Program ini dia dapatkan secara mandiri. Hasil dari “mengalami” hidup di sana ia presentasikan dalam bentuk pameran di studio Megalo, 24 April 2009 dengan tajuk Me vs Robot. Penganalogian ini muncul ketika Bayu merasakan bahwa di dalam urbanisasi, manusia hidup dalam sistematika mesin. Residensi menjadi praktik mengalami bentuk “urban” di sana –hingga masuk dalam medan street art.

Melalui sejumlah karyanya, terasa ia tertarik untuk mengkomunikasikan konsep urbanisasi yang sudah menjadi praktik, dan efeknya bagi kemanusiaan orang. Aktualisasi dari persoalan sosial urban itu banyak dia tampilkan melalui penanda-penanda, berupa rumah, dan manusia berkepala tengkorak. Memang ada variasi lain, namun, kita bisa mendekati gagasannya mengenai urban melalui tegangan manusia dan “home”. Home bukanlah rumah, melainkan “ruang kenyamanan”.

Gagasan urban dalam karya Bayu tidak bisa dilepaskan dari status dirinya, sebab dia sendiri ialah salah satu pelakunya. Namun, cara orang untuk meng-urban bermacam-macam. Bayu lebih masuk ke jalur sub-kultur untuk mengalami urbanisasi itu. Dan dikelompok ini berkembang cara mengurban yang spesifik, dengan mengaktualisasikan diri dengan budaya tattoo dan membentuk survivalitasnya. Survive, merupakan kata yang selalu dia tekankan untuk memaknai kelompok sosial spesifik yang menjadi “rumah”-nya.

Dalam pembuatan karyanya, Bayu menerima media sebagai cara menghadirkan realitas kepada orang. Pengalaman urbanisasi orang itu bisa didapatkan juga melalui media. Karya-karyanya kerap berasal dari kisah-kisah dalam media. Bila media ialah rekaman kejadian, dan potensial menjadi memori bagi orang yang mengonsumsinya. Maka, apa yang dikerjakan Bayu melalui karyanya ialah menghadirkan ulang memorinya. Memang, karya-karyanya bukanlah artikulasi memori yang verbal. Melainkan memori yang bernegoisasi dengan sikap perupa. Melalui kerja studionya, memori itu diartikulasikan kembali dengan medium cetak/grafis. Melalui medium grafis yang menjadi “rumah” seninya itu dia meng-urban-kan karyanya.

Komposisi karya yang akan dipresentasikan merupakan hasil residensi, dan karya selepas residensi di Jogja. Karya residensi lebih banyak kertas, sementara di Jogja lebih banyak kanvas. Semuanya dalam bentuk dua dimensi, cetak, dan dikerjakan dengan teknik silkscreen. Secara umum, Memories on Print ini merupakan presentasi gagasan perupa mengenai efek urbanisasi bagi kemanusiaan. Pameran ini ingin berkomunikasi mengenai ingatan-ingatannya (Bayu) perihal orang-orang urban dalam mencari ruang kenyamanan di lanskap perkotaan yang penuh dengan perubahan dan pergeseran ruang.

Selain pameran karya hasil residensi, acara kali ini diisi dengan bentuk-bentuk edukasi berupa workshop screen print dan tattoo yang akan diselenggarakan pada 9 Juli 2009 dimulai jam 10.00 – 17.00 WIB. Dan, artist talk proses residensi di Megalo pada 10 Juli 2009 pukul 15.00. Semua acara berlokasi di Roommate Visual Art Curatorial Lab, Jl. Suryodiningratan 37 B, Yogyakarta.

Acara utama:
Pameran Tunggal Bayu Widodo
Hasil Residensi di Studio Megalo, Canberra, Australia dan beberapa karya studio di Jogja

Bentuk acara pendukung: Workshop sablon, dan Tatto (Kamis, 9 Juli 2009, pkl. 10.00 – 17.00 WIB). Artist Talk (pengalaman proses residensi) di Studio Megalo, Canberra, Australia (Jumat, 10 Juli 2009, pkl. 15.00 WIB)

Memories on Print
5 – 12 Juli 2009

Pembukaan : 5 Juli 2009, pkl.. 19.30 WIB
Perupa : Bayu Widodo
Kurator : Sutrisno Prianggodo
Dibuka oleh : Bambang “Toko’ Witjaksono
Venue : Roommate Visual Art Curatorial Lab. Jl. Suryodiningratan 37 B, Yogyakarta
Musik : Jalan Surabaya
(Unkle Ho, Bilal, Danger Dope)
Dendang Kampungan
Nova Ruth
DJ. Death Beetle
see you there guys !!!

=IVAA Open House

Farah Wardani SORE-MALAM INI: IVAA Open House 2, 2 Juli 2009. Patehan Tengah 37 Yogya. 17.00-18.00: Jumpa Media. 18.00-19.00: Snack & Kopi Magrib. 19.00-19.30: Presentasi Fasilitas On Site Digital Archive & Preview Online Archive oleh IVAA. 19.30-20.00:Makan Malam. 20.00-21.00: Performance & Talk oleh Maria Tri Sulistyani (Papermoon Puppet Theatre). Host: IVAA Crew. Moderator Talk: Brigita Isabella. MC: Ican Harem.